Liwa, Kota Hujan Ala Lampung

Liwa, Kota Hujan Ala Lampung Source Picture : Budhi M.U

Sebagai kota yang berada di pegunungan Bukit Barisan Selatan, Liwa Ibu Kota Kabupaten Lampung Barat dijuluki sebagai kota hujan. Kondisi alamnya yang terletak di pegunungan, membuat kota ini senantiasa sejuk dan nyaman untuk menjadi tempat tinggal. Buat kamu para pecinta alam, tanah Liwa juga wajib kamu kunjungi saat berada di Lampung.

Liwa sangat kaya akan wisata alamnya, mulai dari pegunungan, sungai, lembah, bahkan hutan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan juga ada di sini. Liwa mencakup beberapa desa yang semuanya dikelilingi bukit-bukit nan hijau. Gunung Pesagi, puncak tertinggi di Lampung juga dapat kamu saksikan dari kota ini. Bahkan sejak dulu Liwa sudah terkenal sebagai tempat yang aman dan menyenangkan bagi banyak orang. Orang Belanda di masa kolonial pun, senang menjadikan kota ini sebagai tempat berlibur. Sebelum gempa berkekuatan 6,5 skala Richter pada 15 Februari 1994 yang menghantam kota ini, ada beberapa bangunan peninggalan Belanda yang dapat disaksikan. Sejak gempa tersebut, bangunan yang tersisa ialah tangsi yang kini dijadikan sebagai Kantor Kepolisian Sektor Balik Bukit, serta Pesanggrahan yang kini menjadi Hotel Sindalapai.

Ibu kota Lampung Barat ini memiliki banyak tempat wisata menarik yang bisa kamu kunjungi. Diantaranya air terjun Kubuperahu, kuburan yang penjangnya mencapai 3 meter di desa Jejawi yang di sebut sebagai Pulau Dewa, dan Prasasti Hujung Langit. Kondisi alamnya yang subur juga menjadikan Liwa juga sebagai pusat perkebunan kopi dan sayuran di Lampung.

Tidak hanya itu, selain wisata alam dan sejarah, Liwa juga kaya akan wisata budaya. Bagi kamu yang berniat ingin mengetahui kebudayaan Lampung lebih dalam, wajib hukumnya datang ke kota ini. Hingga kini, Liwa termasuk daerah di Lampung yang masih sangat melestarikan adat kebudayaan Lampung. Antara lain Nayuh atau upacara adat pesta pernikahan, Nyambai atau acara bujang dan gadis dalam rangka resepsi pernikahan, Bediom atau menempati rumah baru, sunatan, Festival Sekura yaitu pesta topeng rakyat yang diselenggarakan pasca Idul Fitri, tradisi sastra lisan seperti Wayak, Sagata, Hawiwang dan sebagainya, adat Buhimpun atau bermusyawarah, Butetah atau upacara penyematan gelar adat dan masih banyak lagi.

Gilang Jaka Pramana

About the Author

Gilang Jaka Pramana Living large and taking charge! | Autodidactic Blogger and Creativepreneur.

Shortlink : http://bandarlampungku.com/l9r035.bdl

Comments

    • Belum ada komentar pada artikel ini...