Ngerasa Ga Nyaman Dikantor? Mulailah Bangun Budaya Ini

Ngerasa Ga Nyaman Dikantor? Mulailah Bangun Budaya Ini Source Picture : @s2sindonesia

Empati di tempat kerja merupakan sikap yang perlu untuk terus dibangun di dalam diri setiap individu. Tanpa empati akan sulit dibangun hubungan yang solid antar sesama rekan kerja. Empati berperan penting dalam berbagai bidang kehidupan, mulai dari pekerjaan, pendidikan, manajemen, hingga tindakan bela rasa dan percintaan. Empati dibangun pada lingkup self-awareness (kesadaran diri).

Proaktif juga tidak kalah penting dari sikap empati. Apabila setiap individu memiliki sikap proaktif maka tujuan yang akan dicapai dapat terlaksana lebih cepat dan tepat. Proaktif sendiri secara mudah memiliki arti: berinisiatif untuk membentuk pribadi menuju suatu tujuan hidup tertentu atau sikap seseorang yang mampu mengenali situasi dan kesempatan kemudian memanfaatkannya untuk mengubah sesuatu ke arah yang lebih baik.

Beberapa orang memiliki rasa empati dan proaktif sehingga akhirnya memberikan keuntungan untuk dirinya sendiri dan kemajuan kariernya. Sementara sebagian lainnya sulit mengekspresikan empati. Setiap orang bisa menumbuhkan dan mengembangkan rasa empati di dalam diri. Berikut cara membangun rasa empati di kantor.

  1. Menjadikan empati sebagai budaya organisasi. Cara mengajarkan rasa empati kepada seluruh karyawan adalah dengan memberikan contoh. Maka, manajemen dapat menetapkan nilai kepedulian, pemahaman dan pengembangan orang lain sebagai ciri kepemimpinan yang diinginkan. Jadi, orang yang berkesempatan untuk mendapat promosi sebagai manajer adalah pegawai berprestasi yang punya rasa empati sebagai nilai tambah. Kemudian, perusahaan bisa menekankan bahwa setiap orang yang sudah duduk di kursi pimpinan harus memberi waktu dan perhatian kepada karyawan.
  2. Membantu manajer mengembangkan keterampilan mendengar dengan baik melalui pelatihan dan pembinaan. Untuk memahami orang lain, para manajer harus menjadi pendengar yang baik. Dengan begitu, karyawan akan merasa kalau masalah mereka didengarkan, dipahami, dan akan dicarikan solusi. Manajer perlu mengembangkan kemampuan mendengar aktif, termasuk keterampilan untuk mencerminkan perasaan yang diungkapkan, membaca isyarat nonverbal, menahan diri untuk tidak menghakimi, mengklarifikasi kesalahpahaman dan meringkas percakapan. Jika manajer mempraktekkan kemampuan mendengar, maka akan mendapat penghormatan dari karyawan, membangun kepercayaan, dan memperkuat hubungan kerja.
  3. Memasukkan topik empati dalam program pelatihan manajemen. Perusahaan bisa saja memekerjakan berbagai ahli dengan kemampuan mumpuni. Tapi, belum tentu punya rasa empati. Menyeleksi kandidat pegawai yang punya rasa empati saat wawancara kerja tidak mudah. Tetapi, semua pegawai bisa mulai dilatih agar menumbuhkan rasa empati di dalam diri sejak semula. Selain pelatihan terhadap pegawai baru, topik empati juga bisa diangkat pada pelatihan kepemimpinan. Hal ini bisa mendorong para manajer untuk mempertimbangkan pengalaman dan perspektif karyawan saat menyelesaikan masalah dan mengelola konflik. Dengan begitu, manajer bisa memimpin tim menuju produktivitas yang lebih tinggi.

Selain kepada para pimpinan, rasa empati juga perlu ditanamkan pada karyawan. Berikut cara menumbuhkan rasa empati dari dalam diri sendiri:

  1. Mendengarkan. Dengarkan dengan telinga, mata dan hati Anda. Perhatikan bahasa tubuh orang lain, nada suara lawan bicara, hingga emosi yang tersembunyi di balik pernyataan.
  2. Jangan menyela. Jangan buru-buru memotong pembicaraan dan langsung memberi nasihat. Jangan mengubah arah pembicaraan.
  3. Memahami komunikasi non-verbal. Terkadang hal yang dikatakan seseorang tidak sesuai dengan apa yang dirasakan. Anda perlu melatih kepekaan untuk melihat gelagat dan gerak-gerik lawan bicara.

Sedangkan langkah-langkah agar kita bisa menjadi pribadi yang proaktif adalah sebagai berikut:

  1. Ramal (Predict) – Bina pandangan jauh. Belajar untuk memikirkan terlebih dahulu masalah yang mungkin timbul. Fahami bagaimana perkara-perkara berlaku – corak, rutin dan kitaran semula jadi yang hadir di dalam perniagaan anda.
  2. Rancang (Plan) – Orang yang proaktif merancang masa hadapan mereka. Tuliskan rancangan kita. Inilah kunci yang memastikan rancangan kita dilaksanakan dan disempurnakan.
  3. Halang (Prevent) – Kenal pasti halangan yang berpotensi bertukar menjadi isu besar yang membantutkan kemajuan kita (seperti berasa letih, kawan-kawan ajak keluar minum dan sebagainya) dan cari jalan untuk mengatasinya. Tuliskan rancangan untuk mengatasi halangan ini. (Sebagai contoh, jika ada kawan yang mengajak saya keluar minum, saya akan katakan yang saya akan pergi setelah selesai kerja saya.)
  4. Sertai (Participate) – Jangan jadi pemerhati. Ambil inisiatif untuk mengambil bahagian. Sentiasa menjadi sebahagian daripada penyelesaian, bukan masalah itu.
  5. Laksana (Perform) – Mengambil tindakan yang efektif dan kena pada masanya. Bertanggungjawab atas prestasi anda.

Menjadi proaktif bermakna bertanggungjawab atas kehidupan masing-masing. Ingat, tingkah laku kita adalah hasil daripada keputusan kita, bukan keadaan kita. Adakah anda seorang yang empati dan proaktif?

Sumber:

Modul Soft Skills – Skills to Succeed Program

http://www.qerja.com/journal/view/8288-membangun-budaya-empati-di-kantor/2/

https://www.dictio.id/t/bagaimana-cara-meningkatkan-kemampuan-berempati-dan-apa-manfaatnya/1451

https://leaderonomics.com/bm/artikel/adakah-anda-proaktif

 

Ryan Januar Sherty

About the Author

Ryan Januar Sherty Connect, Share and Get idea. Amateur web and creative designer. Juru ketik. Antithesism.

Shortlink : http://bandarlampungku.com/l9r373.bdl

Comments

    • Belum ada komentar pada artikel ini...